Membuat film dokumenter merupakan hal yang tidak mudah. Selain dibutuhkan penyajian dari sebuah peristiwa, kejadian, atau kisah yang secara utuh dan jelas, namun juga harus mampu menyajikan sesuatu yang menarik untuk menghasilkan film dokumenter yang bagus dan lebih nyaman, menarik, dan tidak membosankan untuk ditonton. Dalam pembuatan film dokumenter juga dibutuhkan waktu yang tidak singkat dengan proses yang panjang untuk bisa masuk ke dalam subyek, peristiwa, dan menguak fakta-fakta menarik yang bisa untuk disajikan.

Belum lama ini Overloops mendapatkan sebuah tantangan dari perusahaan asal Amerika, TopCoder yang juga merupakan klien dari kita yang sudah menjalin kerja sama selama bertahun-tahun. Tim Overloops dipercaya untuk membuat sebuah project baru, sebuah project film yang digadang-gadang akan menjadi suatu yang besar untuk komunitas TopCoder, yaitu membuat film dokumenter mengungkit kisah dari tiap member yang terpilih di 5 negara, di 3 benua yang berbeda.

Hal ni menjadi sebuah tantangan yang sangat menarik bagi tim Overloops, dan merupakan alasan khusus juga bagi tim TopCoder untuk mempercayakan ini kepada tim Overloops selain karena kualitas Overloops yang sudah teruji dimata mereka, kedekatan kita dengan komunitas TopCoder menjadi nilai tambah tersendiri, sehingga diharapkan meskipun dengan waktu yang singkat, namun dengan hubungan kerja sama yang sudah terjalin selama bertahun-tahun dengan anggota komunitas juga mampu memberikan akses dan juga kemudahan tersendiri bagi tim Overloops dalam pembuatan film dokumenter tersebut.

Garis besar dari film dokumenter yang akan tim Overloops kerjakan, adalah merupakan sebuah tren ekonomi yang berlangsung di dunia digital saat ini dimana para pekerja lepas atau freelancer yang memiliki cara tersendiri untuk menjadi sukses, yaitu dengan cara memilih pekerjaan yang memberikan mereka kebebasan untuk mampu bekerja sesuai dengan passion mereka, kapan saja, dimana saja, dan juga memberikan penghasilan atau ekonomi yang menarik.

Tantangan kita sebagai tim yang akan mendokumentasikan hal ini adalah bagaimana kita mengemas hal tersebut menjadi hal yang menarik. Dalam film dokumenter sendiri, pada dasarnya memiliki berbagai macam pendekatan untuk mengemas proses produksi yang nantinya akan dinikmati dalam bentuk film. Pendekatan itu bisa dilakukan dengan cara merekam kejadian kronologis seaktual mungkin, bisa juga merupakan kejadian yang direka ulang, atau pun pendekatan-pendekatan artistik lainnya yang membuat film tersebut menjadi lebih nyaman untuk ditonton. Tim Overloops melakukan dokumentasi film dokumenter ini dengan waktu tersedia yang tergolong sangat singkat yaitu 4 hari untuk setiap subjeknya, dimana kita harus menyusun strategi bagaimana dengan waktu yang singkat tersebut dan juga dengan resource yang sangat terbatas, kita bisa membuat film yang semenarik mungkin.

Tim yang nantinya akan membuat film dokumenter, dituntut untuk bisa membuat sesuatu yang bagus namun juga tetap efisien, dalam artian produksi film dokumenter tentunya akan sangat berbeda dengan produksi film dengan set produksi yang sempurna karena ketika film dokumenter di treatment seperti produksi film secara utuh, maka essensial dari film dokumenter tersebut akan hilang. Sebab, bagaimanapun juga film dokumenter yang bagus dan menarik adalah yang mampu merekam kejadian yang secara nyata, aktual, dan spontan. Keterlibatan kru yang terlalu banyak tentunya akan menjadi hal yang tidak efektif untuk membuat sebuah film dokumenter. Namu, tim pembuatan film dokumenter yang terlalu sedikit juga akan membuat kesulitan, terlebih ketika pendekatan yang akan dilakukan dibutuhkan penggunaan seperti set lighting, ataupun multicam.

Pada akhirnya untuk film dokumenter dari TopCoder ini kita tentukan menggunakan 2 orang tim yang berangkat sebagai kameramen 1 dan kameramen 2 yang juga merangkap sekaligus menjadi DOP dan juga untuk set lighting. Mungkin akan menjadi hal yang berat di lapangan, namun dengan perencanaan yang matang dan kreativitas di lapangan, tentunya tidak ada hal yang mustahil untuk dilakukan.

Proses produksi film dokumenter seperti pada umumnya terbagi menjadi beberapa fase dimulai dari preproduksi, produksi, dan postproduction. Dalam pembuatan film dokumenter saat ini dengan proses produksi yang berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, maka peranaan preproduksi akan menjadi sangat penting karena bagaimanapun juga untuk mendrive cerita yang menarik dari setiap subyek, dibutuhkan pemahaman akan subyek tersebut. Beruntunya dengan segala kemajuan di jaman sekarang ini, meskipun dengan subyek yang berjarak jauh kita tetap mampu melakukan riset, baik itu riset tentang subyeknya, maupun riset tentang kondisi lapangan atau lingkungan dimana tempat subyek bertinggal. Menggali fakta tentang subyek dilakukan dengan cara interview untuk menggali tentang hal menarik tentang masing-masing subyek sehingga dapat juga untuk menentukan bagaimana alur video subyek tersebut.

Perencanaan perlengkapan menjadi hal yang tak kalah pentingnya dalam pembuatan sebuah film dokumenter. Kalian bisa simak bagaimana dan apa saja yang diperlukan dalam perencanaan perlengkapan tersebut di laman blog yang bisa kalian kunjungi disini.

Sementara untuk hal yang menantang dari pembuatan film dokumenter ini adalah tentang bagaimana mengemas hal yang sebenarnya biasa menjadi hal yang menarik. Pada kasus pembuatan film dokumenter TopCoder tentang Passion Economy kali ini, 5 orang subyek yang berbeda yang berada di 5 negara yang akan kita interview tentunya memiliki background yang berbeda-beda. Dari pihak TopCoder sendiri sudah memberikan deadline di setiap subyek. Subyek yang pertama adalah Thomas, seorang anggota Topcoder yang sekarang menjadi co-pilot atau project manager dan cukup sukses di TopCoder. Subyek yang kedua adalah seorang Ibu yang mempunyai anak usia remaja yang mampu bekerja dirumah dan ia, Pereviki, cukup sukses di TopCoder dengan waktu yang cukup singkat. Kemudian Sergey, subyek ketiga yang adalah seorang Ph.d mantan researcher, yang akhirnya bekerja sebagai competitor di TopCoder dan dia adalah mantan juara di TopCoder Open dan juga TopCoder Spirit Awards. Berikutnya adalah Scott Wu, seorang enterpreneur, algorithm competitor yang bekerja sebagai founder sebuah startup di San Francisco, California. Dan yang terakhir adalah seorang Ibu rumah tangga dengan 2 orang anak dan berasal dari India, Nitya, mampu bekerja sebagai seorang kompetitor dan co-pilot di TopCoder sekaligus mengasuh anak-anaknya yang masih kecil.

Hal yang paling menantang pada awalnya adalah bagaimana kita bisa hal yang menarik untuk dikerjakan bagi orang yang bekerja di depan komputer. Kita berfokus pada lifestyle, tentang kota tersebut, aktivitas sehari-hari, dan sesuatu hal yang dapat menginspirasi. Ketika membuat film dokumenter, pada akhirnya kita akan berusaha untuk sebanyak mungkin menggali informasi dan hal yang menarik lainnya yang tidak kita ketahui sebelumnya dari hasil pada riset awal di preproduction.

Penggunaan plot, alur cerita, dan kerangka video urutan dari awal hingga akhir tetap kita kerjakan pada awal preproduction setelah mendapatkan fakta-fakta tentang subyek meskipun dalam sebuah film dokumenter merupakan suatu hal yang mengungkit fakta yang nyata apa adanya yang tidak direka-reka di lapangan. Lantas juga bukan berarti kita tidak mempunyai deadlines dalam pembuatan film dokumenter. Kita juga harus membuat sesuatu yang dapat mengarahkan cerita menjadi hal yang menarik. Pada dasarnya, pertanyaan-pertanyaan yang akan kita tanyakan pada subyek bisa kita tanyakan pada saat kita membuat sebuah riset seperti misalnya by phone or skype, hanya saja jawaban yang kita terima akan bersifat tidak spontan, sedangkan yang kita harapkan adalah jawaban yang spontan, yang mungkin hal-hal yang tidak terduga ketika subyek menjawab pertanyaan tersebut. Namun demikian, agar subyek memiliki sedikit gambaran, maka kita kirimkan semua pertanyaan yang akan kita tanyakan untuk mereka pelajari sebelumnya.

Langkah berikutnya adalah membuat sebuah stroyline dari video tersebut. Kita berangkat dari Gig Economy dari kota-kotanya, kemudian pembahasan secara general, berikutnya aspek visual yang akan ditambahkan pada video. Aspek-aspek visual inilah yang nantinya akan menjadi penting, karena dari storyline ini akan berujung pada sebuah shotlist. Terkadang, yang terpenting dari sebuah video yang menarik adalah bagaimana kita bisa membuat sebuah urutan gambar visual yang menarik untuk dinikmati secara visual. Kadang kala pada proses interview, mungkin nantinya sekitar 90% akan kita tumpuk dengan konten b-roll agar video tidak membosankan. Maka kita buatlah sebuah shotlist dan storyline dari video yang akan mengarahkan kita untuk lebih mudah dalam proses produksi nanti.

Oke, demikian postingan tentang TopCoder “Passion Economy” Part I – Preproduction, nantikan postingan Overloops berikutnya untuk tahapan dan cerita proses pembuatan film dokumenter ini. See Ya!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *