Setelah mengerjakan project Penelusuran Bibit Unggul dan Kemitraan, selanjutnya Overloops mengerjakan rangkaian projek video profil Sekolah Vokasi UGM lainnya, yaitu Vocational Talents Scouting atau biasa disingkat sebagai VTS. VTS adalah program yang diberikan oleh ugm untuk mencari bakat-bakat dari SMA terpilih yang diseleksi sedemikian rupa sehingga terpilih beberapa mahsiswa yang akan diberikan beasiswa untuk melanjutkan studi di Vokasi UGM. Anak-anak VTS yang terpilih nantinya akan menjadi row model bagi para mahasiswa lainnya di kampus dan memberikan benefit untuk untuk UGM dan untuk mahasiswa tersebut. Hal ini menguntungkan mahasiswa VTS tersebut karena nantinya ia akan mendapatkan beasiswa kuliah dan juga bimbingan dari dosen. UGM mengharapkan Overloops dapat membuat sebuah video yang merepresentasikan program tersebut menjadi sebuah video yang cinematic dan bisa menggambarkan perjuangan seorang anak yang lebih menonjol dibandingkan teman-temannya. Mahasiswa VTS ini yang nantinya akan memiliki kelebihan dibandingkan mahasiswa lainnya.

Dalam pembuatan video ini, kita perlu melakukan pendekatan story telling lagi. Namun kali ini kita menggunakan story telling dari pihak ketiga yang menceritakan tentang anak SMA peraih beasiswa VTS kemudian masuk ke UGM hingga anak tersebut wisuda. Seperti ide cerita yang diceritakan tadi, kita menggunakan 3 tempat untuk shooting VTS ini. Pertama, kita melakukan proses shooting di Sekolah Vokasi sendiri. Karena Sekolah Vokasi ini dibagi menjadi beberapa departemen dalam bidang IPA dan IPS yang dibagi lagi menjadi beberapa jurusan. Target kita dalam video ini adalah memberikan gambaran-gambaran vidual dari masing-masing departemen dan profesi mereka nantinya setelah lulus. Shooting di SV UGM ini hanya berlangsung 1 hari saja, namun kita sedikit kesusahan untuk mencari mahasiswanya karena pada saat itu sedang minggu tenang dan tidak ada kegiatan belajar mengajar sama sekali. Tetapi Alhamdulillah berkat bantuan dari humas dan kesiswaan UGM, kita bisa mendapatkan rekomendasi talent yang good looking dan cocok untuk menjadi model utamanya.

Alhamdulillah pada hari H, semua talent bisa datang dan bisa mendapatkan talent sesuai dengan harapan kita. Shooting berlangsung dari pagi hingga sore dan dengan bantuan storyboar yang telah kita kerjakan sebelumnya, semua photographer dan director sudah memiliki short list apa saja yang harus mereka lakukan di hari itu. Short list disini berperan sangat penting karena dalam proses pengambilan gambar harus dilakukan seefektif dan seefisen mungkin dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Di lapangan kita membagi tim menjadi 2 yang masing-masing mengambil shoot di 4 departemen yang berbeda dan disesuaikan dengan storyboard. Konsep yang kita gunakan cukup unik dan menarik karena kita akan melakukan pendekatan baru dengan visual yang bisa merepresentasikan anak sekolah vokasi yang lebih menonjol dibandingkan teman-teman lainnya. Dengan tambahan transisi akan membuat video ini terlihat lebih menarik. Dalam pengambilan gambar ini, kita membutuhkan beberapa teknik dan perencanaan yang matang, sehingga kita juga menggunakan berbagai jenis kamera untuk masing-masing tim. Tim pertama menggunakan kamera Sony A7 Mark II dengan lensa 24 70 dan 1 moving kamera berupa DJI Osmo. Kemduian tim kedua menggunakan Sony A7S dengan lensa 17 40 yang dipasangkan dengan Zhiyun Crane Versi II untuk moving kameranya dan menggunakan Sony A7 Mark II dengan lensa 85 mm untuk mengambil detailnya. Dengan dibagi menjadi 2 tim tersebut, akhirnya semuanya berjalan dengan lancar, semua scene terambil dan lengkap tanpa kurang satupun meskipun sedikit molor karena beberapa scene harus menunggu petugas lab membukakan lokasi shooting.

Setelah selesai mengambil shoot di UGM, keesokan harinya Overloops mengambil tempat di SMA yang lokasinya dekat dengan kantor Overloops yaitu SMA N 2 Banguntapan. Dalam pengambilan gambar di sekolah ini, kita mendapatkan beberapa cerita lucu karena kesalahan kita sendiri. Karena setelah siap dengan talent yang mengenakan seragam putih abu-abu, sesampainya di sekolah ternyata para siswa menggunakan seragam batik. Jika kita harus menunggu para siswa menggunakan seragam putih abu-abu, itu akan memakan waktu yang cukup lama. Akhirnya dengan bantuan pihak SMA yang mengusahakan 2 kelas untuk mengenakan seragam putih abu-abu keesokan harinya, kita bisa menyelesaikan shoot di SMA 2 Banguntapan itu dengan cepat dan berjalan sesuai rencana. Siswa SMA 2 Banguntapan yang menjadi pemeran pembantu pun sangat cooperative dan dengan sukarela membantu kita. Untuk shoot di SMA ini kita menggunakan kamera A7S yang dihubungkan dengan Zhyun Crane dan lensa 17 40, kita juga menggunakan kamera A7S Mark II dengan lensa 85 mm sebagai kamera detail. Kita juga menggunakan teknik timelapse sehingga membutuhkan kesabaran tinggi. Konsep timelapse ini digunakan ketika peran utama berdiri di tengah gerbang dan para siswa lalu lalang dari sisi kanan kirinya. Ini juga merupakan tantangan sendiri karena kita harus menggiring anak-anak SMA untuk keluar sekolah lalu masuk kembali ke sekolah.

Scene terakhir adalah scene wisuda yang diambil di Grha Sabha Permana bersamaan dengan scene lainnya untuk PBUK. Kita menggunakan talent yang sama dengan yang sebelumnya, dan kita juga mendapatkan pinjaman toga dari UGM. Karena shooting ini diadakan di hari Minggu, kita sedikit kesusahan untuk memaksa para talent yang sedang pulang kampung untuk kembali ke Jogja. Meskipun sedikit molor dari waktu yang seharusnya, kita bisa menyelesaikan semuanya dengan baik dan yang membuat kita bersyukur adalah meskuipun sedang musim hujan, selama proses shooting hujan tidak turun sama sekali. Kita berterimakasih kepada UGM dan semua pihak yang terlibat dan membantu dalam proses video ini. Nah, untuk kalian yang ingin membuat video profile seperti ini, temen-temen bisa meminta jasa Overloops dengan menghubungi kami melalui akun instagram @overloops atau bisa juga dengan melalui Fecbook Page Overloops. Buat video profile company-mu menjadi lebih cinematic dengan Overloops.

RECENT POSTS

    Leave a comment