Sebagai seorang videographer yang tidak hanya bekerja dengan client saja, kami juga memiliki hobi dibidang foto dan videography. Bagi tim Overloops, travelling juga bisa dugunakan untuk mengasah kemapuan dengan memaksimalkan gambar dari peralatan yang ada sekaligus menjadi lebih peka dan sigap dalam menghadapi keadaan sekitar untuk mendapatkan gambar yang lebih baik. Tidak heran jika di beberapa kesempatan travelling, salah satu videographer Overloops, Cendhika juga membuat sebuah video highlight perjalanan atau video tentang objek-objek yang dikunjungi menjadi sebuah video cinematic yang enak untuk ditonton. Mulai menggunakan go-pro untuk merekam perlengkapan hingga menggunakan kamera morrorless untuk merekam perjalanan. Pada kesempatan kali ini, kita akan berbagi pengalaman bagaimana proses dibalik video-video yang telah kita buat dari tahun 2014 hingga 2017 ini.

Dalam pembuatan video travelling, kita harus mengetahui apa itu definisi travel video itu sendiri. Semakin berkembangnya teknologi, semakin banyak orang tertarik untuk mencoba beberapa destinasi wisata baru dan lebih ter-encorage untuk merekam perjalanan, tentang tempat-tempat yang dia kunjungi sehingga nantinya bisa di share dan dijadikan sebagai cerita atau sekedar untuk melampiaskan hobi merekam gambar-gambar yang bagus. Karena video ini bersifat personal, dalam membuat sebuah travel video tidak ada batasan tertentu sehingga videographer bebas untuk membuat video sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Video travel ini sendiri memiliki banyak jenis, meliputi video vlog, documenter, atau cinematic. Dalam hal ini, Overloops lebih tertarik untuk membuat video cinematic dimana perwujudan dari gambar-gambar yang direkam selama perjalanan untuk lebih fokus pada keindahan tempat tersebut dan dikemas sedimikan rupa sehingga lebih enak dinikmati ketika telah menjadi sebuah video. Bahkan sebenarnya video cinematic ini hanya berdurasi 1 hingga 5 menit dari video sederhana namun enak untuk dinikmati.

Pada kesempatan kali ini, kami akan sharing pengalaman pembuatan video travel cinematic berdasarkan pengalaman dari setiap perjalanan yang telah kita lakukan. Setiap tempat memiliki perbedaan perlengkapan yang nantinya akan menjadi inspirasi atau acuan teman-teman untuk membuat sebuah video yang tidak terbatas dengan alat dan bahkan dengan menggunakan action cam pun video yang bagus bisa dibuat, asalkan dengan sebuah perencanaan dan sanse of pengambilan gambar dan editing yang baik. Kita akan sharing tips-tips pembuatan video travelling yang baik dimulai dari persiapan, produksi, hingga proses post productionnya. Baiknya lagi, tips ini tidak hanya digunakan untuk dokumentasi travelling saja, tapi juga bisa digunakan untuk dokumentasi event dan proses pengambilan gambar lainnya.

Hal Non Teknis (Persiapan)

  • Shoot list

Membuat sebuah perencanaan ketika akan membuat sebuah video itu mutlak untuk dilakukan. Tapi faktanya ketika kita berangkat travelling pasti hanya terpaku pada objek utamanya saja. Kita hanya mengambil gambar utama ataupun video dari sebuah tempat, kemudian ketika kita pulang ke rumah dan ingin membuat sebuah video cinematic pasti akan merasa materi yang kita ambil kurang karena hanya itu-itu saja. Sedangkan sebuah travel video yang baik itu adalah video yang bisa menggambarkan proses travelling secara lebih lengkap. Hingga nantinya akan terbentuk sebuah video yang bisa men-drag emosi dan suasana penonton sehingga penonton terbawa ke dalam video tersebut.

Untuk membuat yang seperti itu, prosesnya tidak hanya menyajikan bidang utama saja, tetapi juga meliputi proses persiapan, perjalanan ketika menuju suatu tempat, hal-hal unik apa saja yang kita temui di perjalanan, hal menarik apa saja yang bisa menjadi sajian utamanya, hal apa yang orang tidak disadari oleh orang-orang di tempat tersebut, hal-hal yang bisa ditangkap kamera namun mata manusia tidka bisa, hal-hal itu lah yang harus di pertimbangkan, dipikirkan, bahkan sebelum kita melakukan sebuah proses pengambilan gambar. Namun faktanya, ketika kita sudah sampai di lokasi, banyak kejadian yang kita lupakan, atau bahkan sering blank, ide apa yang seharusnya muncul itu jadi tidak lagi terpikirkan karena terlalu banyak hal-hal yang perlu dipikirkan. Nah, untuk lebih amannya dan memastikan bahwa hal-hal yang menarik agar video yang kita buat lebih dinamis itu harus kita tuangkan dalam sebuah shoot list.

Biasanya kita membuat shoot list ini untuk membuat list apa saja yang harus kita ambil ketika berada di lokasi. Hal-hal sederhana seperti langkah kaki, view dari luar jendela, timelapse di bandara, point of view ketika mengambil sebuah tiket, atau hal-hal kecil lainnya itu sebaiknya dituangkan ke dalam sebuah shoot list dan kita harus memastikan bahwa semuanya tampil dalam proses produksi. Dengan cara ini kita bisa mnedapatkan ide-ide baru di lapangan karena biasanya shootlist itu bisa dijadikan sebagai trigger awal untuk melakukan sebuah proses tertentu yang nantinya akan berkembang menjadi ide-ide baru ketika kita juga menemukan hal-hal yang unik di lapangan.

  • Rehearsal

Hal selanjutnya yang cukup menjadi hal penting dan sering kali dilewatkan adalah dengan melakukan rehearsal atau melakukan gladi bersih. Hal ini sangat penting karena ketika kita travelling pastinya tidak ingin diribetkan dengan berbagai perlengkapan, sedangkan tidak bisa dipungkiri untuk membuat sebuah video yang menarik dan bisa dinikmati itu membutuhkan berbagai macam kamera dan perlengkapannya. Terkadang kita ingin mendapat gambar yang bagus, sedangkan hal ini tidak sebanding dengan kemudahan travelling itu sendiri. Kita harus rela terbebani peralatan-peralatan lebih yang harus kita bawa selama proses travelling. Lebih sialnya lagi jika kita sudah berniat untuk membuat video yang bagus dengan membawa banyak perlengkapan kamera, namun pada akhirnya banyak alat yang tidak terpakai, tidak efisien, dan justru malah merepotkan selama kita travelling. Menurut kami, untuk penempatan kamera, meletakkan lensa, menaruh baterai, meletakkan tripod, cara membawa tripod, dan ketika kita kita harus dihadapkan dengan beberapa keadaan tertentu, itu harus digladikan agar proses pengambilan gambar ini nantinya tidak terhambat dan juga bisa lebih efektif dan efisien lagi. Untuk melakukan gladi tersebut, biasanya ketika packing peralatan, kita pasti mencoba berbagai macam konfigurasi yang berbeda, mencoba merekam, bagaimana kita beralih dari satu lensa ke lensa lainnya, ketika kita dihadapkan pada kondisi objek yang datang seketika, bagaimana jika kita kehabisan baterai, bagaimana kita memanage baterai yang habis terpakai, mengganti baterai tersebut dengan baterai yang barus, dan mengecas baterai tersebut sehingga ketika kita kehabisan baterai bisa segera menggunakannya kembali. Untuk hal-hal teknis seperti itu kita perlu melakukan gladi bersih agar proses produksi travelling nantinya bisa membuat kita lebih enjoy.

  • Komunikasi

Hal selanjutnya yang wajib kita persiapkan adalah komunikasi. Terkadang kita tidak sendirian ketika travelling, bisa saja travelling bersama keluarga atau pun teman-teman, dan pasti tidak semua memiliki interest yang sama untuk pembuatan video travelling ini. Untuk membuat sebuah gambar yang bagus memang tidak mudah diterima oleh kebanyakan orang. Seperti ketika kita harus mengambil gambar di waktu-waktu bagus seperti sunrise, golden hour, sunset, dan juga blue hour. Waktu-waktu ini lah biasanya untuk tipical seorang turis hanya mengunjungi di waktu pagi saja, padahal photographer biasanya berangkat pagi-pagi sekali untuk berburu blue hour hingga sunrise, dan pulang lebih akhir untuk hunting sunset hingga petang.

Hal seperti ini harus dikomunikasikan terlebih dahulu dengan teman-teman kita agar mereka bisa mengikuti cara travelling kita atau kita bisa berangkat sendiri untuk hunting saat mereka akan melakukan aktivitas lainnya. Jangan sampai ketika travelling kita harus mengikuti arus traveller lainnya sehingga rencana kita untuk membuat video travelling yang bagus menjadi gagal karena bahan yang dibutuhkan kurang lengkap. Kondisi paling ideal di sini adalah ketika kita travelling dengan teman-teman yang interest di bidang photography dan videography, sehingga kita bisa membuat sebuah schedule dimana kita harus fokus untuk menikmati pemandangan sekaligus merekam video.

Sebenarnya waktu yang cocok untuk merekam gambar adalah waktu kertika kita enjoy menikmati pemandangan. Seperti ketika pagi hari saat sunrise dan golden hour, para turis belum berdatangan sehingga keadaan lokasi tersebut masih sepi. Namun dari berbagai pengalaman, kami sering kali mengalami hal ini yang membuat kita memutuskan untuk pergi sendiri dan pisah dari rombongan, atau mengedukasi teman-teman jika travelling bersama kita, maka harus rela untuk meluangkan waktu untuk stay disebuah tempat dengan waktu berjam-jam untuk penagmbila gambar timelapse yang biasanya tidak semua orang bisa menerimanya. Maka agar tidak terjadi ke miss communication, kita wajib untuk melakukan proses komunikasi terlebih dahulu.

 

Nah, itu dulu yang bisa kita share, untuk apa yang harus kita lakukan ketika proses produksi akan kita bahas di artikel berikutnya. Tunggu terus ya postingan kita…

RECENT POSTS

    Leave a comment