Overloops diberikan kesempatan untuk memberikan pelatihan tentang foto dan video kepada PT Taspen Surakarta. Perusahaan Tabungan Pensiunan mengirimkan 5 orang staffnya yang terdiri dari orang-orang yang bertugas untuk mendokumentasikan event-event dan membuat video seputar PT Taspen ini agar mereka bisa membuat foto atau video yang lebih baik lagi. Pelatihan ini berlangsung selama 2 hari yang berlokasi di studio Overloops dan untuk beberapa sesi praktek dilakukan langsung di lapangan. Hari pertama, coaching clinic berlangsung dari pukul 9 yang diawali dengan pelatihan basic photography. Tim Overloops yang diwakili Cendika, memberikan materi tentang bagaimana mengoperasikan kamera dan bagaimana basic mendokumentasikan objek dari kamera yang ada. Kita berangkat dari perangkat apa yang telah dimiliki client kita atau peserta pelatihan, agar mereka bisa memaksimalkan dari alat yang ada.

Peserta kita kali ini memiliki kamera 6D dengan lensa 24 105, kamera 600D dengan lensa 18 55, dan juga kamera 700D dengan lensa 18 105. Overloops memberikan materi mengenai bagaimana memaksimalkan lensa zoom untuk memotret dokumentasi. Kita juga menjelaskan tentang perbedaan lensa zoom dengan lensa fix, perbedaan full frame dengan kamera crop factor. Selain itu, Overloops juga sharing pengetahuan tentang bagaimana membuat komposisi yang bagus dengan menggunakan rule of truth, dan juga menerapkan konsep KISS (Keep In Simple and Stupid) untuk mendapatkan foto yang bagus dan lebih artistic. Kita juga sharing tentang bagaimana foto jurnalistik yang bagus, dan bagaimana caranya kita bisa menampilkan informasi dalam satu frame menggunakan layering. Dalam pengambilan foto, kita juga harus bisa mengangkat semua informasi yang ada ketika foto tersebut diambil.

Setelah itu kita melanjutkan untuk sharing tentang konsep dasar dalam editing video yang bagus. Video yang bagus itu adalah video yang bisa mengkomunikasikan dan clop antara video dan audionya. Banyak kesalahan yang dilakukan oleh editor video adalah mereka tidak terlalu memperhatikan audio. Padahal audio itu sendiri merupakan nyawa dalam video, dan juga audio itu mampu menggambarkan sebuah kejadian-kejadian yang bisa membawa suasana dari mood video itu sendiri. Overloops juga memberikan contoh-contoh dari video yang telah kita kerjakan dan bagaimana kita bisa menyajikan sebuah video yang benar-benar merepresentasikan emosi dari audio, sehingga penonton lebih enjoy dan terbawa suasana ketika menonton.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam videography adalah sebuah rangkaian cerita dimana dalam video tersebut tidak melulu bercerita tentang hal utama saja, tetapi juga harus menambahkan emosional lengkap dan menggiring suasana video itu sendiri. Kebanyakan videographer itu terlalu terpacu untuk mendokumentasikan event utamanya saja, padahal akan lebih baik jika di awal video kita menambahkan teaser-teaser, dalam artian kita tidak langsung memasukkan hal utamanya tetapi menambahkan insert-insert dimana hal utamanya bisa kita masukkan di tengah video.

Nah, untuk melatih tentang flow sebuah video, kita melakukan praktek secara langsung dengan menuju hutan pinus Yogyakarta. Kita bersama-sama menuju Hutan Pinus untuk membuat sebuah video yang menceritakan tentang perjalanan seseorang yang berada di hutan pinus dan sedang mencari inspirasi. Talent berasal dari peserta sendiri. Overloops memberikan ide-ide, scene, dan sebuah urutan dari flow untuk peserta yang kemudian mereka berusaha untuk merekam prosesnya dari awal hingga akhir. Uniknya dari hal ini, meskipun di direct untuk scene yang sama, tetapi peserta merekam dengan angel yang berbeda-beda yang nantinya akan membuat nuansa yang berbeda dari video.

Beberapa tips yang tim kami berikan dari pengambilan video seperti berikut ini:

  • Sebuah video itu bisa menjadi menarik jika kita bisa menyajikan sebuah gambar yang tidak biasa dilihat oleh orang. Dengan artian, kita bisa menyajikan sebuah gambar yang berbeda dengan pendekatan dan logika kamera, menggunakan slow motion, atau menggunakan point of view yang lebih lebar atau lebih close yang tidak biasa.
  • Jika kita merekamnya menggunakan teknik slow motion, gambar yang dihasilkan akan lebih lambat dari biasanya.
  • Kita bisa merekam menggunakan vocal length yang lebih wide sehingga penonton bisa memandang dengan mata yang lebih lebar, atau bahkan kita bisa menonton dari perspektif yang berbeda, point of view yang berbeda, dari bawah maupun dari atas.

Pendekatan-pendekatan seperti ini kita berikan kepada peserta sehingga mereka bisa membuat sebuah video yang berbeda dari video conventional lainnya.

Proses dokumentasi ini berlangsung hingga sore hari, dilanjutkan latihan Photography dengan memotret blue hour di gedung PT Taspen Yogyakarta. Suasana sore itu cukup cerah meskipun sebelumnya sempat turun hujan dan sunsetnya cukup berwarna sehingga kita mendapatkan moment sunset yang berlanjut dengan moment blue hour. Beberapa tips yang diberikan oleh Overloops untuk mengambil gambar saat sunset ataupun blue hour adalah sebagai berikut:

  • Untuk memotret blue hour menggunakan tripod dan lensa wide sehingga bisa mencakup gedung yang lebih luas.
  • Gunakan speed yang rendah sehingga bisa meminimalisir iso dan juga bisa memainkan temperature foto sehingga bisa memilih foto yang lebih biru atau kuning sesuai keinginan kita.
  • Teori komposisi sangat diterapkan di photography bangunan, rule of truth jangan meletakkan gedung tepat di tengah, bermain perspektif dan eye level.
  • Hal yang paling penting adalah memotret dengan light painting. Light painting ini dilakukan dengan cara menembakkan beberapa flash ke arah gedung ketika kamera memotret secara slow speed.

Hari kedua kita focus untuk melakukan editing foto dan video. Pertama kita editing foto bersama-sama yang diambil di hari pertama. Kita mengedit foto menggunakan raw editor Photoshop, bagaimana mengatur foto sehingga memiliki dynamic range yang lebih lebar dengan cara memainkan shadow, highlight, blac, white, temperature, vibrate, dan saturasi, sehingga foto tersebut bisa menjadi lebih bagus lagi. Peserta terlihat sangat impressed dengan foto yang dihasilkan dan cukup mengerti bahwa editing tidak hanya mencoba-coba menggeser untuk mengubah value saja, tetapi juga ada prinsip utama yang harus dilakukan yaitu dnegan cara menurunkan highlights, menaikkan shadow, menurunkan black, dan menaikkan white. Dengan hal sederhana seperti ini saja kita bisa mendapatkan foto yang memiliki dynamic range yang lebih lebar dari foto standard yang dihasilkan dari kamera.

Setelah selesai editing foto, kemudian kita melakukan editing video yang diawali dengan bersama-sama mencari music yang bagus dan sesuai dengan mood video yang sudah diambil di hari sebelumnya. Para peserta kita bebaskan untuk mencari audio music sesuai dengan favorite mereka di situs-situs free seperti audio library Youtube atau bahkan yang berbayar seperti audio jungle. Dari kegiatan ini kita bisa melihat taste peserta, bagaimana kemampuan peserta dalam membayangkan emosi yang cocok untuk sebuah video. Masing-masing peserta memiliki usulan masing-masing yang kemudian kita pilih satu yang terbaik sesuai dengan kesepakatan bersama. Dalam editing video, kita memiliki beberapa proses sebagai berikut:

  • Proses awal dari editing video adalah dimulai dengan memdengarkan audionya dahulu.
  • Setelah itu memotong-motong bagian video yang sesuai dengan mood yang berbeda sengan sequence yang berbeda.
  • Kemudian kita mulai memotong file audionya dengan cara memasukkan semua file video ke sequence untuk memudahkan proses pemotongan gambar.
  • Lalu menggabungkan audio dengan video yang telah dipotong sebelumnya.

Ketika istirahat makan siang, kita juga menyisipi dengan materi tentang photography yaitu bagaimana penggunaan flash di siang hari. Kita melakukan sesi ringan disekitar tempat makan. Kita memberikan materi perbedaan antara penggunaan flash dan ambient light, penggunaan satu flash, dan penggunaan 2 flash di siang hari. Para peserta sangat bersemangat untuk mencoba mempraktekkan teknik photography dengan lighting tersebut. Mereka bereksperimen dengan bermacam-macam setup, berbagai angel, dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama tim.

Setelah selesai makan siang, peserta melanjutkan proses editing hingga sore hari. Kemudian kita bersama-sama memutar hasil karya untuk kemudian dibedah hasilnya. Hal yang menarik adalah kita membahas bagaimana seorang videographer itu bisa memberikan hasil yang berbeda-beda dengan yang lainnya meskipun mengedit dengan scene yang sama. Pendekatan-pendekatan dari segi teknis dan segi komposisi ini kita bahas per scene, dan kita bandingkan 3 karya dari 3 videographer yang berbeda. Kemudian kita membahas bagaimana scene yang seharusnya, bagaimana mood dari point of view yang seharusnya diharapkan, dan bagaimana flow dari editing itu sendiri. Tim Overloops sendiri cukup impressed karena ada beberapa peserta yang baru pertama mengedit video dan merekam proses seperti di awal. Mereka sudah cukup mampu dan mahir, bahkan bisa menghasilkan sebuah video yang cukup menarik. Hal ini bisa terjadi karena antusias peserta yang tinggi dan Overloops sangat senang akhirnya bisa membantu tim dokumentasi sebuah perusahaan untuk nantinya bisa membuat sebuah video event atau video profil dari perusahaan tersebut agar menjadi lebih baik lagi.

Sekian dari Overloops, kita juga membuka kesempatan untuk para perusahaan, instansi, atau perorangan untuk belajar photography bersama tim kita. Fasilitas yang disediakan berupa computer dan perlengkapan-perlengkapan yang bisa digunakan ketika proses pelatihan. Tentunya dengan mentor yang berpengalaman di bidangnya. Pendekatan dari tutorial kita sendiri dengan basic pengalaman karena kita juga sering melakukan proses seperti ini, kemudian bisa diaplikasikan untuk peserta dikemudian hari. Jika kalian tertarik untuk belajar photography dan videography seperti PT Taspen ini, kalian bisa menghubungi Overloops melalui instagram @overloops atau bisa juga melalui Facebook Page Overloops.

RECENT POSTS

    Leave a comment